LANDASASAN

Landasan Syar’i Kewajiban Berzakat

Kewajiban zakat dalam Islam berlandaskan al qur’an, sunnah dan ijma (ketetapan para ulama). Landasan pertama di dalam al qur’an banyak sekali berbicara tentang zakat. Allah SWT Berfirman: “Dirikanlah shalat dan tunaikan zakat dan ruku’lah bersama orang−orang yang ruku’”. (QS. Al Baqarah : 43).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan do’akanlah mereka karena sesungguhnya do’amu dapat memberi ketenangan bagi mreka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mnegetahui.” (QS. At Taubah : 103)

Firman Allah SWT dalam surat Al An’am ayat 141 :”Makanlah buahnya jika telah berbuah dan tunaikan haknya (kewajibannya) dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya).

Landasan kedua, yaitu dengan sunnah nabawiyah. Rasulullan SAW bersabda: “Islam dibangun diatas 5 perkara: rukun syahadat tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad saw utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, membayar zakat, menunaikan haji dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Umar).

Sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah mewajibkan zakat atas orang−orang kaya dari umat Islam pada harta merekadengan batas sesuai kecukupan fuqoro diantar mereka. Orang−oramng fakir tidak akan kekurangan pada saat mereka lapar atau tidak berbaju kecuali karena ulah orang−orang kaya diantara mereka. Ingatlah bahwa Allah akan menghisab mereka dengan keras dan mengadzab mereka dengan pedih.” (HR. Ath Thabrani dari Ali ra).

Landasan ketiga, yaitu dengan Ijma (ketetapan para ulama). Para ulama salaf (klasik) dan khalaf (kontemporer) telah sepakat bahwa zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan dan mengingkarinya berarti kafir.

Beberapa ayat dan hadits mengenai zakat

Beberapa ayat dan hadits mengenai zakat

Surat at Taubah ayat 58-60:

“Diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang memburuk-burukkanmu karena sedekahmu. Tetapi jika diberi sebagian darinya, mereka senang: jika tiada diberi, mereka murka. Sekiranya mereka rela dengan apa yang diberikan, Allah dan RasulNya kepadanya dan mengatakan, “Allah cukup bagi kami, Allah dan RasulNya akan memberi kami sebagian dari karuniaNya. Kepada Allah kami memanjatkan harapan.” SEDEKAH HANYALAH BAGI FAKIR MISKIN, PARA AMIL, PARA MUALLAF YANG DIBUJUK HATINYA, MEREKA YANG DIPERHAMBA, MEREKA YANG MANDI HUTANG, JIHAD DI JALAN ALLAH, DAN ORANG YANG TERLANTAR DALAM PERJALANAN. DEMIKIAN DIWAJIBKAN ALLAH. ALLAH MAHA TAHU MAHA BIJAKSANA.”

Surat at Taubah ayat 103:
“Pungut zakat dari kekayaan mereka, berarti kau membersihkan dan mensucikan mereka dengan zakat itu, kemudian doakanlah mereka, doamu itu sungguh memberikan kedamaian buat mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Peristiwa Jibril mengajarkan kepada kaum Muslimin dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik kepada Rasulullah, “Apakah itu Islam?” Nabi menjawab: “Islam adalah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan naik haji bagi yang mampu melaksanakannya.” (hadis muttafaq ‘alaih).

Siapa Yang Berhak Menerima Zakat.

Ada 8 asnaf zakat iaitu :

  1. Fakir
  2. miskin
  3. amil
  4. muallaf
  5. riqab
  6. gharim
  7. fisabililah
  8. ibnu sabil

Dalam Quran surat at Taubah ayat 58-60, Allah berfirman yang artinya:

“… Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah bagi fakir miskin, para amil, para muallaf yang dibujuk hatinya, mereka yang diperhamba, orang-orang yang berutang, yang berjuang di jalan Allah, dan orang kehabisan bekal di perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Jadi jelaslah disini, bahwa golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) ada delapan golongan, yaitu:

  • Fakir dan Miskin

Fakir dan miskin adalah golongan yang pertama dan kedua disebutkan dalam surat at Taubah, dengan tujuan bahwa sasaran zakat adalah menghapuskan kemiskinan dan kemelaratan dalam masyarakat Islam. Menurut pemuka ahli tafsir, Tabari, yang dimaksud fakir, yaitu orang dalam kebutuhan, tapi dapat menjaga diri tidak meminta-minta. Sedangkan yang dimaksud dengan miskin, yaitu orang yang dalam kebutuhan dan suka meminta-minta.

  • Amil zakat

Sasaran ketiga adalah para amil zakat. Yang dimaksud dengan amil zakat adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, mulai dari para pengumpul sampai kepada bendahara dan para penjaganya. Juga mulai dari pencatat sampai kepada penghitung yang mencatat keluar masuk zakat.

  • Golongan muallaf

Yang dimaksudkan dengan golongan muallaf, antara lain adalah mereka yang diharapkan kecenderungan hatinya atau keyakinannya dapat bertambah terhadap Islam, atau terhalangnya niat jahat mereka atas kaum Muslimin, atau harapan akan adanya kemanfaatan mereka dalam membantu dan menolong kaum Muslimin dari musuh. Macam-macam golongan muallaf adalah:

    1. Golongan yang diharapkan keislamannya atau keislaman kelompok serta keluarganya
    2. Golongan orang yang dikuatirkan kelakuan jahatnya
    3. Golongan orang yang baru masuk Islam
    4. Pemimpin dan tokoh masyarakat yang telah memeluk Islam yang mempunyai sahabat-sahabat kafir.
    5. Pemimpin dan tokoh kaum Muslimin yang berpengaruh di kalangan kaumnya, akan tetapi imannya masih lemah.
    6. Kaum Muslimin yang tinggal di benteng-benteng dan daerah perbatasan musuh.
    7. Kaum Muslimin yang membutuhkannya untuk mengurus zakat orang yang tidak mau mengeluarkan, kecuali dengan paksaan.
  • Untuk memerdekakan budak belian

Cara membebaskan bisa dilakukan dengan dua hal: Pertama, menolong hamba mukatab, yaitu budak yang telah ada perjanjian dan kesepakatan dengan tuannya, bahwa bila ia sanggup menghasilkan harta dengan nilai dan ukuran tertentu, maka bebaslah ia. Kedua, seseorang dengan harta zakatnya atau seseorang bersama temannya membeli seorang budak kemudian membebaskan. Atau penguasa membeli seorang budak dari harta zakat yang diambilnya, kemudian ia membebaskan.

  • Orang yang berutang

Gharimun (orang yang berhutang) adalah termasuk golongan mustahiq. Menurut Ibnu Humam dalam al Fath, gharim adalah orang yang mempunyai piutang terhadap orang lain dan boleh menyerahkan zakat kepadanya karena keadaannya yang fakir, bukan karena mempunyai piutangnya. Ada dua golongan bagi orang yang mempunyai utang, yaitu golongan yang mempunyai utang untuk kemaslahatan diri sendiri, seperti untuk nafkah, membeli pakaian, mengobati orang sakit. Golongan lain adalah orang yang mempunyai utang untuk kemaslahatan orang lain, seperti mendamaikan dua golongan yang bermusuhan, orang yang bergerak di bidang sosial, seperti yayasan anak yatim, rumah sakit untuk fakir, anak yatim piatu dan lain-lain.

  • Di jalan Allah

Quran menggambarkan sasaran zakat yang ketujuh dengan firmanNya: “Di jalan Allah”. Sabil berarti jalan. Jadi sabilillah artinya jalan yang menyampaikan pada ridha Allah, baik akidah maupun perbuatan. Sabilillah adalah kalimat yang bersifat umum, mencakup segala amal perbuatan ikhlas, yang digunakan untuk bertakkarub kepada Allah, dengan melaksanakan segala perbuatan wajib, sunat dan bermacam kebajikan lainnya.

Ibnu sabil

Ibnu sabil, menurut Jumhur ulama adalah kiasan untuk musafir, yaitu orang yang melintas dari suatu daerah ke daerah lain. Dikatakan untuk orang yang berjalan di atasnya karena tetap di jalan itu. Menurut pendapat beberapa ulama, ibnu sabil mempunyai hak dari zakat, walaupun ia kaya, apabila ia terputus bekalnya. Ibnu Zaid berkata: “Ibnu sabil adalah musafir, apakah ia kaya atau miskin, apabila terdapat musibah dalam bekalnya, atau hartanya

samasekali tidak ada, atau terkena sesuatu musibah atas hartanya, atau ia samasekali tidak memiliki apa-apa, maka dalam keadaan demikian itu, hanya bersifat pasti.

Tata cara membayar zakat.

Tata cara membayar zakat

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membayar zakat.

Pertama, sucikan niat sebelum menunaikan zakat (juga infaq / sedekah). Pastikan bahwa amal perbuatan kita ditujukan hanya dan semata-mata untuk Allah swt.

Kedua, telitilah sasaran zakat; apakah dia benar-benar termasuk golongan yang berhak menerima uang zakat. Hal ini tidak berlaku untuk infaq yang boleh diberikan kepada siapa saja.

Ketiga, utamakanlah orang-orang yang dekat jika memberi zakat langsung kepada mustahiq dan tidak melalui lembaga amil. Tetapi perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan orang-orang dekat tidak termasuk istri, anak-anak, atau orang tua sebab ketiga kelompok ini memang berhak atas nafkah seseorang.

Keempat, ketika memberikan zakat ucapkan kata-kata yang baik dan santun kepada penerima. Janganlah kita membatalkan pahala atas perbuatan atau amal kita dengan perkataan yang tidak patut dan menyakitkan.

Kelima, tunaikanlah zakat ketika saatnya tiba. Menunda-nunda pembayaran zakat tidak dikehendaki oleh Islam dan seluruh ajaran Islam, termasuk zakat, mendidik manusia untuk disiplin dan tepat waktu.

Pada prinsipnya, dibenarkan oleh syariat Islam apabila seseorang yang berzakat langsung memberikan sendiri zakatnya kepada para mustahiq dengan syarat kriteria mustahiq sejalan dengan firman Allah swt dalam surat At-Taubah:60. Akan tetapi, sejalan dengan firman Allah tersebut dan juga berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad saw, tentu akan lebih utama jika zakat itu disalurkan lewat amil zakat yang amanah, bertanggung jawab, dan terpercaya. Ini dimaksudkan agar distribusi zakat itu tepat sasaran sekaligus menghindari penumpukan zakat pada mustahiq tertentu yang kita kenal sementara mustahiq lainnya -karena kita tidak mengenalnya- tak mendapatkan haknya.

Disamping itu, ada mustahiq yang berani terang-terangan meminta dan ada pula mustahiq yang merasa berat (malu) untuk meminta. Dengan demikian, dimungkinkan kita hanya memberi kepada mereka yang terang-terangan meminta, sementara kepada yang merasa berat meminta kita sama sekali tidak memperhatikan.

Kenapa Harus Berzakat?

Pertama, karena dapat membersihkan harta dari hak milik orang lain dan menjaga dari ketamakan orang jahat, sebagaimana disebutkan dalam al quran surat at taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan do’akanlah mereka karena sesungguhnya do’amu dapat memberi ketenangan bagi mreka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan: ” Dan pada harta−harta mereka (orang−orang kaya) terdapat hak orang−orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS. Azzariyaat: 19), juga Rasulullah SAW bersabda: “Jagalah harta kalian dengan membayar zakatnya.” (HR. Ath−Thabrani)

Kedua, karena dapat mensucikan jiwa dengan mengikis akhlak yang buruk, seperti, egois, serakah dan lain−lain yang merupakan fitrah manusia, yang memiliki kecenderungan untuik mencintai dan menyukai harta (QS. 3: 14).

Kecenderungan yang buruk tersebut dapat dihilangkan dengan terbiasa mengamalkan dan mengeluarkan zakat, oleh karenanya zakat juga dapat mengembangkan akhlak mulia seperti kedermawanan, peduli terhadap sesama salaing menyayangi dan saling mengasihi dan lain−lain.

Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan do’akanlah mereka karena sesungguhnya do’amu dapat memberi ketenangan bagi mreka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Sebagai ungkapan rasa syukur pada Allah atas nikmat−nikmat yang telah diberikanNya berupa kelebihan harta” . (QS At−Taubah: 103)

Ketiga, alat yang sangat efektif mengembangkan potensi umat dan mengentaskan kemiskinan. Zakat merupakan ibadah yang memiliki hubungan langsung dengan ekonomi umat, dana−dana yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk modal usaha, investasi dan lain−lain. 

Sehingga bagi para mustahikin (golongan yang menerima zakat) dapat memanfaatkan untuk modal usaha, suatu saat ketika usaha tersebut berhasil ia tidak lagi menerima zakat tetapi mengeluarkan zakat. Atau sesuai dengan visi zakat merubah mustahik menjadi muzaki. 

Hal ini terbukti ketika masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz hanya dalam masa 2 tahun berhasil mengentaskan kemiskinan sehingga tidak ada lagi yang mau menerima zakat semua rakyatnya mereasa sudah menjadi mzaki (pembayar zakat) bukan lagi mustahik (penerima zakat). 

Sebagaimana dituturkan Abu Ubaid bahwa Gubernur Irak Hamid bin Abdurrahman mengirim surat kepada Amirul Mukminin tentang melimpahnya dana zakat di baitulmaal karena sudah tidak ada lagi yang mau menerimanya, lalu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memberikan gaji dan hak rutin orang di daerah itu, dijawab oleh Hamid “Kami sudah memberikannya tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal, lau Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan untuk memberikan dana zakat tersebut kepada mereka yang berhutang dan tidak boros.

Hamid berkata, “Kami sudah bayarkan hutang−hutang mereka, tetapi dana zakat begitu banyak di Baitul Maal”, kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar ia mencari orang lajang tidak memiliki uang dan ingin menikah agar dinikahkan dan dibayarkan maharnya, dijawab lagi “kami sudah nikahkan mereka dan bayarkan maharnya tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal”, akhirnya Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar Hamid bin Abdurrahman mencari seorang yang biasa membayar upeti atau pajak hasil bumi. 

Jika ada kekurangan modal berilah pinjaman kepada mereka agar ia mampu kembali mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut kcuali setelah dua tahun atau lebih” 
Keempat, membangun brand image terhadap perusahaan dalam mengangkat Social Company. 
Zakat di era global dan modern

Di era glonalisasi dan modernisasi saat sekarang ini, dimana arus informasi begitu cepat dan mudah didapat, seolah−olah dunia ada dalam genggaman tangan, kejadian di belahan bumi utara dapat diketahui dengan cepat di belahan bumi lainnya. 

Teknologi semakin canggih seakan−akan mengubah dunia dari tidak mungkin menjadi mungkin. Namun sangat disayangkan keberhasilan itu tidak diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Realitanya adalah yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. 

Tingkat kepedulian terhadap sesama begitu rendah. Masing−masing orang sibuk dengan urusannya sendiri, kalaupun peduli terkadang sebagian orang memiliki tujuan tertentu di balik kepeduliannya itu. Saat ini kemiskinan merajelala, orang meminta dimana−mana, Inilah realita bangsa yang lebih dari 85% nya adalah muslim. 

Diantara syariah Islam yang peduli terhadap pengentasan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat dhuafa adalah zakat. Pada saat ini syariah zakat mulai didengungkan oleh masyarakat Islam. Di era globalisasi dan modernisasi sekarang ini, zakat dapat mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari cara pembayaran, pengelolaan hingga pendistribusian.

Dalam masalah pembayaran, orang yang hendak membayar zakat tidak perlu susah lagi mendatangi lembaga−lembaga amil zakat atau masjid−masjid, tetapi dapat dengan menggunakan tekonologi modern, seperti transfer via bank, ATM dan lain sebagainya. 

Dalam hal pendistribusian, saat ini pendistribusian zakat tidak lagi dengan cara−cara konsumtif, tetapi lebih bersifat produktif, walaupun pada masa Rasulullah SAW. pernah juga dilakukan, namun saat ini pendistribusian dilakukan dengan sistim perberdayaan masyarakat dhuafa, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah dan lain−lain.

Dari berbagai sumber .

Sedekah Mengharap Balas

Sedekah Mengharap Balas

Buat apa anda bersedekah? Apa yang anda harapkan dengan mengorbankan harta Anda? Ikhlas? Bohong… Anda pasti sedang mencoba menipu, jika Anda mengatakan bahwa Anda berderma karena ikhlas. Lha kok bisa? Ya, memang seperti itu adanya. Anda mengakuinya atau tidak. Sesungguhnya setiap yang kita korbankan ada feetback yang kita harapkan. Minimal adalah balasan dari Allah swt. Betul?Ya…he he he,  kalau balasan dari Allah mah semua kita mengharapkan. Anda pasti akan mengatakan begitu. Hanya saja yang kita harapkan hanyalah keridhaannya. Ah… anda sudah mulai mencoba berbohong lagi. Kalau Anda benar-benar mengharapkan keridhaan Allah, maka Anda tidak akan memilih pecahan terkecil yang Anda sedekahkan. Kalau memang Anda benar-benar ikhlas, anda tidak akan memilih recehan yang lusuh untuk Anda dermakan. Dan kalau Anda benar-benar rela karena Allah, Anda tidak akan mengingat apa yang akan Anda makan nanti setelah Anda bersedekah.

Sesungguhnya kita adalah makhluk pamrih. Yang senantiasa mengharap balas atas setiap pengorbanan yang menunggu puji dari apa yang kita lakukan. Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari kenikmatan (pleasure) dan menghindar dari kesengsaraan (pain). Dan Allah maha tahu dengan semua ini, makanya ia menyediakan ganjaran atas semua perbuatan. Ada pahala dan surga, ada dosa dan ada neraka.

Allah juga menjanjikan balasan khusus kepada mereka yang bersedekah, yakni balasan 2 kali lipat,10 kali lipat, atau 700 kali lipat. Kalau tidak boleh pamrih tentu Allah tidak akan menjanjikan hal demikian dalam kitab suci-Nya. Jadi boleh dong pamrih? Ya. Boleh lah, asal pamrihnya sama Dia. Bukan kepada manusia. Dan memang kita diperintahkan untuk pamrih, berharap, dan meminta kepada-Nya kan?. Bukankah Allah berfirman,

Mintalah kepada-Ku. Niscaya akan Ku kabulkan bagi kalian,”

Sesungguhnya ketika kita berbicara masalah pamrih, maka ia tidak akan terlepas dari berbicara masalah keikhlasan. Pamrih dan ikhlas adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Jika pamrih adalah mengharap balasan, maka keikhlasan adalah kerelaan dan keridhaan. Namun demikian keikhlasan kadang-kadang harus dimulai dari pamrih bahkan paksaan.

Masih ingat ketika Anda belajar shalat dulu? Apakah Anda ikhlas? Bisa ya, bisa tidak. Kemungkinan besar Anda melakukannya supaya mendapatkan ganjaran dari orang tua. Atau mungkin karena takut akan hukuman yang akan diberikan mereka?. Diakui atau tidak, sebagian besar diri kita melakukannya dengan terpaksa karena perintah orang tua. Lalu apa yang Anda rasakan sekarang?. Begitu ringan kan melaksanakan shalat? Itu semua karena keikhlasan yang sudah terbentuk dalam diri Anda. Karena Anda telah ikhlas. Walaupun masih ada juga sebagian orang yang tetap merasa berat. (Mudah-mudahan Anda tidak termasuk di dalamnya). Jika suatu amalan telah dilakukan atas dasar keikhlasan, tentu semuanya akan mudah dan ringan untuk dilaksanakan. Karena akan ada kepuasan dan kesenangan yang didapatkan setelah amalan itu dilaksanakan.

Begitu pula dalam halnya dalam meminta kepada Allah. Jika kita tidak boleh pamrih, berharap dan meminta kepada Allah, sama siapa lagi kita akan meminta? Sama dukun? Kita diharamkan mendatanginya, kecuali dua dukun, dukun beranak dan Dedi Dukun, hehehe…

Oleh karenanya, pupuklah kebiasaan dalam beribadah. Dalam bersedekah. Jangan menunggu ikhlas dulu baru sedekah. Tapi bersedekahlah selalu sampai Anda menemukan keikhlasan itu. Ikhlas by doing istilahnya. Setelah Anda membiasakannya, Anda akan mendapatkan rasa ikhlas itu. Wallahu a’lam.

wudhu1

Tata Cara Berwudhu yang Benar

Tata Cara Berwudhu yang Benar – Wudhu merupakan fardhu berdasarkan sabda Nabi saw.: “Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian jika ia hadats sampai berwudhu”. Bagi yang wudhu diperbolehkan meminta bantuan orang lain, sebagaimana diriwayatkan, sesungguhnya Al-Mughirah pernah menuangkan air kepada Nabi saw. ketika beliau mengambil wudhu pada suatu malam di tabuk. Dan sesungguhnya Usamah pernah menuangkan air kepada Nabi saw. ketika beliau mengambil wudhu di pagi hari pada waktu haji wada’ sesudah beliau beranjak dari Arafah, (tepatnya) di antara Arafah dan Muzdalifah.

Kemudian diriwayatkan pula dari Hudzaifah bin Abu Hudzifah dari Shafwan bin ‘Assal r.a., ia berkata: “Aku pernah menuangkan air kepada Nabi saw. saat beliau sedang berada di tempat atau saat beliau sedang dalam perjalanan, ketika beliau hendak mengambil wudhu, lalu beliau memulainya dengan niat seraya berkata: Aku niat menghilangkan hadats wudhu”.

  1. Niat lalu Membaca basmalah pada permulaan wudhu

Niat adalah fardhu. Kemudian daripada itu disunnahkan menyebut nama Allah Ta’ala (membaca basmalah) karena wudhu, sebagaimana dikemukan dalah hadits  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi saw. bersabda:

“Barang siapa wudhu dan ia menyebut nama Allah Ta’ala, maka hal itu menyebabkan suci bagi seluruh badannya. Oleh karena itu, bila ia lupa menyebutnya pada mula pertama wudhu dan baru ingat saat tengah wudhu, hendaklah ia menyebutnya sehingga wudhu tersebut tidak kosong dari (menyebut) nama Allah ‘Azza wa Jalla”.

  1. Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak tiga kali, hendaknya pada cela-cela jari tangan dibersihkan sebersih mungkin.

Sesudah niat dan menyebut nama Allah Ta’ala, mencuci kedua telapak tangan tiga kali. Sebab Utsman dan Ali r.a., keduanya telah menggambarkan wudhu Rasulullah saw.: “Kemudian keduanya mencuci tangan tiga kali”. Selanjutnya yang bersangkutan menggerak-gerakkan cincinnya jika keadaannya sempit agar air benar-benar sampai menembus kulit yang ada di balik cincin.

Membersihkan Kedua Telapak Tangan saat Berwudhu

Photo by Wikihow.com
  1. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung dari telapak tangan sebelah kanan serta menyemburkanya kembali, yang masing-masing dilakukan tiga kali.

Sesudah itu dia berkumur tiga kali dan menghirup air (istinsyaq) tiga kali dengan mendahulukan berkumur dari instinsyaq. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Abasah r.a. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Tidak seorang pun di antara kalian yang mendekatkan wudhunya, kemudian berkumur, kemudian beristinsyaq dan (sesudah itu) mengeluarkannya (agar kotoran yang ada dalam hidung terbawa keluar), melainkan mengalirlah dosa-dosa yang ada dalam hidung dan ujungnya bersama air”.

Disunatkan dalam beristinsyaq ini, pertama-tama yang bersangkutan mengambil air dan menghirupnya dengan bagian kanan dan mengeluarkannya dengan bagian kiri, berdasarkan hadits Ali r.a. bahwasanya dia berdoa dengan doa wudhu, lalu berkumur, beristinsyaq, dan mengelurkannya dengan tangan kiri. Kemudian dia berkata: Demikianlah Nabi saw. bersuci (wudhu). Disunatkan melakukan berkumur dan istinsyaq dengan sangat, sebagaiman yang disampaikan oleh nabi saw. kepada Al-Laqith bin Shabrah:

“Sempurnakanlah wudhu, jarangkanlah jari-jemari, dan sangatkanlah dalam beristinsyaq, kecuali engkau sedang berpuasa”.

Berkumur-kumur dan Menghirup Air Ke hidung saat Berwudhu

Photo by Wikihow.com

Bagi yang berwudhu boleh mengambil jarak antara berkumur dengan beristinsyaq dan boleh pula menyambungnya. Alasan bagi yang menyatakan boleh bersambung antara berkumur dengan beristinsyaq, antara lain berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwasanya dia mengambil air lalu berkumur dengannya dan beristinsyaq.

Hadits lainnya adalah seperti hadits Abdullah bin Zaid: “Atau dia berkumur dan beristinsyaq dari tangan sebelah. Dia melakukan hal itu tiga kali”. Sedang alasan yang menyatakan boleh mengambil jarak antara keduanya, antara lain berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Mashraf dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw., beliau mengambil jarak antara berkumur dengan istinsyaq”.

Begitu juga disunahkan bagi yang berwudhu bersifak (menggosok gigi) dengan ranting kayu arak atau yang lainnya, sebagaimana dikemukakan dalam hadits Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Seandainya tidak akan memberatkan atas umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat”. Dalam riwayat lain dikemukakan: “Setiap kali hendak wudhu”.

Jika bersiwak membuat seseorang kesakitan atau tidak sekalipun, baginya tetap disunatkan menggosok gigi dengan jarinya, berdasarkan hadits Aisyah r.a. Dia pernah bertanya: “Ya Rasullallah, bila seseorang tidak bermulut, apakah ia bersiwak? Beliau menjawab: Ya! Lalu aku pun bertanya lagi: Bagaimana ia berbuat? Belaiu pun menjawab: Masukkanlah jarinya ke dalam mulutnya”.

  1. Membasuh muka tiga kali dengan mengusap dua sudut mata, menggosok dan melebihkan dalam membasuh serta menyela-nyelai jenggot.

Kemudian setelah berkumur-kumur itu lalu mencuci muka sebagai fardhu, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “…, maka cucilah muka kalian” (QS. 5:6)

Batasan muka adalah: Dari atas sampai bawah, yaitu mulai dari tempat tumbuh rambut kepala sampai dagu dan ujung jenggot. Sedang lebarnya, mulai telinga sebelah kanan sampai telinga sebelah kiri. Pengertian tempat tumbuh rambut kepal, yaitu tempat tumbuh rambut kepala yang berambut normal.

Mencuci Muka Tiga Kali Saat Wudhu

Photo by Wikihow.com

Bila seseorang berjenggot, hendaklah diperhatikan: jika jenggot itu tipis, tidak sampai menutupi kulit, maka yang bersangkutan wajib mencuci kulit dan jenggotnya. Sedangkan jika jenggot itu tebal, sehingga menutupi kulit di baliknya, kepadanya hanya diwajibkan mencuci jenggotnya saja, tidak wajib mencuci kulit yang ada di baliknya. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.: “Sesungguhnya Nabi saw. wudhu, lalu beliau mengambil air hanya dengan kedua telapak tangannya saja dan hanya sekali saja serta mencuci mukanya dengan air tersebut”.

Hanya dengan kedua telapak tangannya dan hanya sekali mengambil saja, sudah barang tentu bagi orang yang berjenggot tebal tidak akan membuat air sampai pada kulit yang ada di balik jenggot. Namun demikian, disunatkan bagi yang berjenggot tebal menyibak-nyibakkannya, yakni menjarangkannya, berdasarkan hadits Utsman r.a.: “Sesungguhnya Nabi menyibak-nyibak jenggotnya”.

  1. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku dengan digosok tiga kali sambil menyelai jari-jari tangan dengan melebihkan dalam membasuh keduanya serta memulai dengan tangan sebelah kanan

Setelah membasuh muka, lalu mencuci kedua tangan sampai dengan sikut. Ini adalah merupakan fardhu. Firman Allah Ta’ala: “…dan tangan kalian sampai sikut” (QS. 5 : 6)

Dalam mencuci kedua tangan ini disunatkan memulai dengan bagian kanan kemudian yang kiri, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oelh Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi saw. bersabsa: “Apabila kalian wudhu, maka mulailah dengan bagian kanan kalian.” Namun demikian bila sampai terjadi dengan mendahulukan bagian kiri, hukumnya boleh karena dalam Al-Qur’an, Allah SWT. juga hanya berfirman: (……, dan tangan kalian).

Membasuh Kedua Lengan saat Berwudhu

Photo by Wikihow.com

Dalam mencuci kedua tangan wajib meliputi sikut, bukan hanya sampai pangkal, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya dia wudhu lalu mencuci kedua tangannya sampai kedua sendi (sikut) dan dia pun mencuci kedua kakinya sampai kedua betisnya. Kemudian dia berkata: “Demikianlah aku melihat Rasulullah saw. wudhu”. Begitu juga halnya konsensus para ulama berketetapan, sesungguhnya sikut itu sendiri adalah bagian yang harus dicuci.

  1. Mengusap dengan menjalankan kedua telapak tangan dari ujung muka kepala hingga tengkuk dan dikembalikan lagi pada permulaan kemudian mengusap kedua telinga sebelah luar dengan dua ibu jari dan sebelah dalam dengan kedua telunjuk.

Sesudah membasuh kedua tangan, lalu menyapu kepala. Hukum menyapu kepala ini adalah fardhu, berdasarkan firman Allah SWT: “…dan sapulah kepala kalian” (QS. 5 : 6)

Batasan kepala yaitu seluruh bagian yang ditumbuhi rambut bagi yang berambut normal dan dua bagian yang melingkari ubun-ubun. Keharusan menyapu kepala ini cukup dengan mengusap saja, sekalipun hanya sedikit, karena Allah Ta’ala juga hanya menyuruh mengusap saja yang berarti mengandung makna sedikit dan banyak.

Mengusap Kepala dari Ujung Kepala Ke Belakang Saat Berwudhu

Photo by Wikihow.com

Minimal -dalam menyapu kepala ini–  dengan air yang terbawa oleh telunjuk dan menyapu pada bagian mana saja dari kepala walau hanya sedikit yang diyakini, bahwa bagian kepala telah disapu atau diusap. Akan tetapi sunnatnya adalah seluruh bagian kepala disapu, mulai dengan mengambil air dengan kedua telapak tangan lalu menyapukannya dan menyambungkan ujung kedua jari manis, kemudian meletakkannya pada bagian depan kepala dan meletakkan kedua ibu jari pada bagian pelipis yang selanjutnya ditarik ke bagian belakang kepala dan setelah itu menarik kembali pada bagian depan kepala. kemudian mengusap kedua telinga sebelah luar dengan dua ibu jari dan sebelah dalam dengan kedua telunjuk atau jari lainnya.

Mengusap Kepala di Akhiri dengan Mencuci Telinga

Photo by Wikihow.com

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Miqdad bin Ma’diyakrib: “Sesungguhnya Nabi saw. menyapu kepala dan bagian luar dalam kedua telinganya serta beliau memasukkan kedua telunjuk ke dalam lubang kedua telinganya”.

  1. Membasuh kedua kaki beserta mata kaki dengan melebihkan dalam membasuh keduanya, memulai dari yang kanan dan menyempurnakan dalam membasuhnya.

Mencuci kedua kaki adalah fardhu, berdasarkan firman Allah SWT.: “…dan (basuhlah) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki” (QS. 5 : 6).

Dalam shahih Bukhari Muslim dinyatakan juga, sesungguhnya Rasulullah saw. pernah melihat sekelompk kaum muslimin berwudhu, sedang tumit mereka tampak tidak tersapu oleh air, maka beliau bersabda:“Celakalah tumit-tumit itu karena jilatan api neraka”.

Membasuh Mata Kaki saat Wudhu

Photo by Wikihow.com

Pernyataan ini merupakan penjelasan, bahwa mencuci seluruh bagian kaki adalah fardhu. Begitu pula dalam hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a. dikisahkan, bahwasanya seseorang berwudhu namun bagian kuku pada kedua kakinya tidak dicuci. Oleh karenanya, maka ia menyampaikan kasus ini kepada Nabi saw., maka bersabdalah Beliau: “Ulangilah wudhu kamu dengan baik”.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dikemukakan pula bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu bertanya : Ya Rasulullah bagaimana bersuci itu ? Kemudian beliau meminta air selanjutnya beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali ( dalam hadits ini dituturkan langkah-langkah berikutnya sampai ia berkata ) :  Kemudian beliau mencuci kedua kakinya tiga kali dan setelah itu beliau bersabda:“ Demikianlah cara bewudhu maka barang siapa memberi tambahan dari ini atau menguranginya sungguh ia telah berbuat tidak baik dan berlaku zhalim “

Pada saat mencuci kedua kaki, wajib menyertakan kedua mata kakinya, sebagaimana firman Allah SWT:“Dan (basuhlah) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki” (QS. 5: 6)

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Utsman ketika mensifati wudhu Rasulullah saw. dikemukakan:“Kemudian beliau mencuci kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya, kemudian yang kiri juga”.

Tidak didapatkan riwayat yang menerangkan, bahwa Rasulullah saw. melakukan wudhu dengan menyalahi riwayat yang dikemukakan di atas, atau mengakui, atau menyatakan bahwa menyalahinya diperbolehkan. Sesungguhnya pernyataan dalam firman Allah yang berbunyi ilal ka’baini (yakni, sampai dengan kedua mata kaki) adalah merupakan dalil, bahwa mencuci kedua kaki meliputi mata kakinya adalah fardhu, karena ghayah (tujuan akhir) termasuk ke dalam tempat tujuan akhir itu sendiri. “Sesuatu yang bersifat wajib bila tidak terpenuhi kecuali dengannya, maka hal itu hukumnya wajib”.

Disunnahkan mencuci kaki dengan mendahulukan bagian kanan dari bagian kiri dan menjarangkan jemarinya, seperti dikemukakan dalam sabda Nabi saw. yang disampaikan kepada Al-Laqith bin Shanrah: “Jarangkanlah olehmu jari jemari.”

Kemudian daripada itu, disunnahkan pula pada saat mencuci kedua tangan melampaui kedua sikut pada waktu mencuci kedua kaki melampaui kedua mata kakinya.

Sabda Rasulullah saw.: “Akan datang umatku pada hari kiamat bertanda putih dikening dan kakinya, sebagai tanda bekas wudhu. Maka barang siapa mampu agar tanda itu berkepanjangan padanya, hendaklah melakukannya”.

Dan disunnahkan juga dalam wudhu melakukannya tiga kali-tiga kali, berdasarkan hadits Ali r.a.:“Sesungguhnya Nabi saw. berwudhu tiga kali-tiga kali”.

Bilamana lebih dari tiga kali, hukumnya makruh, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya:“Sesungguhnya Nabi saw. berwudhu tiga kali-tiga kali. Kemudian beliau bersabda: Demikianlah cara berwudhu. Barang siapa memberi tambahan dari ini atau menguranginya, sungguh ia telah berbuat tidak baik dan berlaku dzalim”.

Namun demikian, diperbolehkan walau hanya satu kali-satu kali atau dua kali-dua kali saja, karena hal itu juga pernah dicontohkan oleh Nabi saw., yakni bahwasanya beliau berwudhu satu kali-satu kali, dua kali-dua kali, dan tiga kali-tiga kali.

Keutamaan Sodaqah (Sedekah)

Keutamaan Sodaqah (Sedekah)

Suatu saat ada seseorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), “Siramilah kebun si fulan!” maka awan itu menepi (menuju ke tempat yang ditunjukkan) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, Wahai hamba Allah, siapakah nama anda? Dia menjawab, “Fulan”. 
Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, “Mengapa anda menenyakan namaku?” Dia menjawab, “Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘Siramilah kebun si fulan!’ yaitu nama anda. Maka apakah yang telah andakerjakan dalam kebun ini?”. Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakanbahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). (Hadits Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits di atas adalah salah satu contoh kisah nyata dari salah satu keutamaan bersodaqah (bersedekah), yaitu Allah (S.W.T.) tidak akan mengurangi rezeki yang kita sedekahkan, dan bahkan Allah (S.W.T.) akan mengganti dan melipat gandakannya.

Sedekah tidak mengurangi Rezeki

Allah (S.W.T.) berfirman dalam surat Saba bahwa Allah (S.W.T.) akan mengganti sedekah yang kita keluarkan:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Saba 34:39)

Secara logika, mungkin kita akan berfikir bahwa harta yang kita keluarkan untuk sedekah berarti pengurangan harta yang ada di tangan kita. Tetapi pa kenyataannya Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda bahwa harta seseorang tidak akan berkurang karena disedekahkan:
“Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadits, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seseorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seseorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seseorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan,” (H.R. Tirmidzi, dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa’ad al-Anmari r.a.)

Sedekah membuka pintu rezeki

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah Tabaraka wata’ala berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah (r.a.), Nabi (S.A.W.) pernah bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

Ada satu kisah pada zaman Nabi (S.A.W.) yang mana seseorang yang banyak hutang berdiam di masjid di saat orang-orang bekerja. Ketika ditanya oleh Nabi (S.A.W.), orang tersebut menjawab bahwa ia sedang banyak hutang. Yang menarik adalah Nabi (S.A.W.) mengajarkan beliau sebuah doa, yang mana doa tersebut tidak menyebut sama sekali “Bukakanlah pintu rezeki” atau “Perbanyaklah rezeki saya sehingga bisa membayar hutang”. Tetapi doa yang diajarkan oleh Nabi (S.A.W.) adalah meminta perlindungan dari rasa malas dan bakhil (pelit). Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang doa ini, bahwa ke-tidak-pelitan seseorang untuk bersedekah membuka pintu rezeki orang tersebut.

Doa tersebut adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu daripada kegundahan dan kesedihan, daripada kelemahan dan kemalasan, daripada sifat pengecut dan bakhil (pelit), daripada kesempitan hutang dan penindasan orang.”

Sedekah melipat gandakan rezeki

Bukan saja sedekah membuka pintu rezeki seseorang, tetapi bahkan bersedekah juga melipat-gandakan rezeki yang ada pada kita.

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: “Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai satu buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik, bukan haram, dan Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya, sebagai kiasan kekuasaanNya, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seseorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung – yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya.” (Muttafaq ‘alaih, dari Abu Hurairah r.a.)

Janji Allah (S.W.T.) dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan melipat-gandakan sedekah kita menjadi 700 kali lipat:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah 2:261)

Sedekah Menjaga Warisan

Rasulullah (S.A.W.) bersabda “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (H.R. Ahmad)

Di dalam Surat Al-Kahfi ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa (A.S.) dengan Khidir. Di dalam kisah tersebut Khidir memperbaiki diding rumah dari dua anak yatim, dan menjelaskan bahwa di bawah dinding tersebut ada harta warisan dari orang tua mereka yang soleh. Khidir memperbaiki dinding tersebut agar harta warisan tersebut tetap pada tempatnya sampai sang anak menjadi dewasa. Demikianlah salah satu contoh bagaimana Allah (S.W.T.) melindungi warisan seseorang.

Sedekah adalah Naungan kita di hari kiamat

Rasulullah (S.A.W.) bersabda “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadist lain, Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda tentang tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah (S.W.T.) pada hari yang mana tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Salah satu orang yang diberi naungan pada hari itu adalah orang yang bersedekah dengan tangan kanan, tetapi tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sedekah Menjauhkan diri kita dari api neraka

Rasulullah (S.A.W.) bersabda: “Jauhkan

Allah (S.W.T.) juga berfirman bahwa salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang akan masuk surga adalah orang yang bersedekah diwaktu lapang maupun sempit.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Q.S. Ali Imran 3:133-134).

Sedekah Mengurangi kesakitan kita di sakaratul maut

Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut).”

Rasulullah (S.A.W.) juga pernah bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Sedekah Mengobati orang sakit

Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

Sedekah untuk janda dan orang miskin diibaratkan seperti orang yang berpuasa terus menerus

Rasulullah (S.A.W.) bersabda, “Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tidak merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (H.R. Bukhari)

Quality adalah lebih baik dari Quantity

Bersedekah satu dolar bisa jadi lebih baik dari pada bersedekah seratus-ribu dollar. Jika seseorang hanya memiliki dua dollar kemudian disedekahkannya satu dollar maka sedekah tersebut adalah lebih baik dari pada sedekah dari seseorang Billioner tetapi hanya mensedekahkan seratus ribu dollar.

Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?” Nabi (S.A.W.) menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (HR. An-Nasaa’i)

Di bulan Ramadhan yang mulia ini marilah kita perbanyak sedekah kita, berapapun jumlahnya. Jangan sampai kita menunggu kaya raya atau hidup berlebih untuk bersedekah karena hal tersebut adalah bisikan syetan belaka. Terlebih lagi, jangan sampai kita menunggu sampai ruh kita berada di tenggorakan, karena pada saat itu harta kita sudah dipastikan bukan milik kita lagi tetapi sudah menjadi milik ahli waris.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah (S.A.W.), “Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya?” Nabi (S.A.W.) menjawab, “Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga ruhmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari) 

keutamaan-shodaqoh-620x330

Manfaat yang terdapat pada sedekah kepada anak yatim

Manfaat yang terdapat pada sedekah kepada anak yatim yaitu :

1. Sebagai Kesempurnaan Iman dan Islam

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin yang artinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Karena itu, Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana seorang muslim itu berhubungan dengan Tuhannya. Akan tetapi, islam juga mengajarkan bagaimana berhubungan baik dengan keluarganya, tetangganya, dan masyarakatnya.
Rasa empati sosial dalam ajaran agama Islam bukan hanya dalam wacana-wacana kosong yang tanpa aplikasi. Akan tetapi, rasa empati sosial dalam Islam diwujudkan dengan tindakan-tindakan nyata, bukan sekedar pengakuan. Oleh karena itu, orang yang mengaku bertakwa ditantang oleh Allah untuk melakukan perbuatan sebagai bukti keimanan, keislaman, dan ketakwaannya. Jika perbuatan yang diperintahkan tersebut bisa dijalankan dengan baik, maka ia memang pantas disebut mukmin, muslim, dan muttaqin. Dalam Al-quran Allah berfirman:
Kitab (Al-Quran) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah: 2-3).
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa menafkahkan rejeki adalah termasuk tanda-tanda ketakwaan. Dalam ayat di atas disebutkan menafkahkan sebagian rejeki adalah memberikan sebagian dari harta yang telah direzekikan oleh Tuhan kepada orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.


Penjelasan bahwa menafkahkan rejeki termasuk dari ciri-ciri orang yang bertakwa juga dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 133-134.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Dalam ayat di atas menginfakkan harta, yang salah satunya adalah dengan sedekah, adalah ciri pertama orang yang bertakwa. Allah memerintahkan meninfakkan harta bukan saja dalam keadaan senang akan tetapi juga dalam keadaan susah.
Untuk bisa menginfakkan harta dalam segala keadaan dan suasana memang bukanlah sesuatu yang mudah. Ada orang yang di saat merasa senang, lega hatinya, dan tentram jiwanya tidak merasa berat untuk menginfakkan hartanya. Apalagi jika ia baru mendapat rejeki yang tidak diduga-duga. Memberikan sebagian hartanya bukanlah sesuatu yang berat. Namun ada pula orang yang merasa ringan untuk bersedekah dalam keadaan sulit. Atau mungkin malah saat nyawa baru sekarat ia baru ingat sedekah. Sementara ketika dalam keadaan sehat ia berat untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Allah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian rejeki bukan saja di saat dalam keadaan senang namun juga dalam keadaan susah. Masing-masing ada keutamaanya. Orang yang bersedekah saat dirinya dalam keadaan sehat dan mendambakan kekayaan akan memperoleh pahala yang agung. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan,
Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sedekah seperti apakah yang pahalanya paling agung?” Beliau menjawab, “Kamu bersedekah pada saat kamu merasa sehat, merasa sayang kepada harta, takut menjadi fakir, dan mendambakan kekayaan. Janganlah kamu menunda sedekah hingga nyawamu sampai di tenggorokan. Lalu kamu berkata, “Untuk si A sekian, untuk si B sekian, dan untuk si C sekian.”
Sabda Rasulullah di atas mengindikasikan betapa cerdasnya beliau. Beliau mengetahui bahwa saat orang dalam keadaan sehat dan memiliki harta maka ia akan merasa kurang terhadap hartanya tersebut. Meskipun ditangannya ada kekayaan namun hati dan jiwanya masih sangat haus harta dan menginginkan tambahan yang jauh lebih banyak. Orang yang dalam keadaan untuk mengeluarkan sedekah merasa berat. Ia merasa bahwa masih banyak kebutuhan-kebutuhan ekonominya yang harus dicukupi sehingga hal itu akan menjadi penghambat utama saat ia ingin bersedekah.
Bersedekah dalam keadaan sangat membutuhkan, terutama pada saat pecekik juga sangat dianjurkan. Di dalam surat Al-Balad Allah berfirman:
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. (Al-Balad: 10-16).
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa memberikan makanan bagi anak yatim dan fakir miskin saat musim pacekik disamakan dengan ‘aqabah’. Aqabah adalah jalan yang berliku-liku, licin, dan sukar didaki yang ada di gunung. Artinya bisa memberikan sesuatu di saat diri sendiri sangat membutuhkan adalah sangat sulit. Oleh karena itu Allah menyebut mereka sebagai golongan kanan atau golongan yang berbuat kebajikan.
Salah satu rukun Islam adalah membayar zakat. Zakat adalah bagian dari sedekah. Para ulama menamakan zakat sebagai sedekah wajib. Orang yang memiliki kelebihan harta tetapi enggan membayar zakat diancam oleh Allah dengan siksa yang pedih.
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS At-Taubah: 34-35).
Begitulah pedihnya azab yang harus diterima oleh orang yang enggan mengeluarkan zakat. Dan jika untuk mengeluarkan zakat. Dan jika untuk mengeluarkan zakat yang hukumnya wajib saja orang sudah enggan apalagi untuk mengeluarkan sedekah sunah.
2. Tanda Husnu Zhan kepada Allah
Setiap manusia memiliki kecenderung menyukai harta benda. Kecenderungan tersebut mendorongkannya untuk mencari apa yang belum dimiliki dan mempertahankan apa yang sudah ada ditangan. Bahkan kadang manusia melampaui batas sehingga ia mengganggap rejeki yang dimilikinya bukan berasal dari Allah namun dari kerja kerasnya.
Orang yang mau mengeluarkan sebagian rejekinya untuk disedekahkan kepada orang lain berarti di dalam dirinya ada husnu zhan (berbaik sangka) kepada Allah. Ada keyakinan di dalam dirinya bahwa Allah akan mengganti sedekah yang dikeluarkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik. Berbeda dengan orang pelit yang menganggap pintu rejeki itu hanya kerja keras dan kikir kepada orang lain. Ia tidak yakin jika ia mengeluarkan sedekah niscaya Allah akan menggantinya yang lebih baik. Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan bahwa Allah berfirman, “Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” Apabila orang mau berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya. Dan jika orang berburuk sangka kepada Allah, prasangka itu akan kembali kepadanya.
Karena sedekah bisa menjadi bukti seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, maka tidak mengherankan jika Allah juga akan memberikan apa yang lebih baik daripada apa yang disangkanya sehingga sedekah itu tidak akan membuat hartanya berkurang namun justru akan membuat hartanya bertambah. “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
3. Mensyukuri Nikmat Allah
Harta adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Dan Allah tidak membagi harta kepada semua manusia dengan bagian sama. Ada orang yang mendapatkan bagian yang banyak dan ada yang mendapatkan bagian yang sedikit. Semua itu semata-mata hanya untuk menguji manusia apakah jika ia diberi harta yang banyak akan bersyukur ataukah tidak. Dan apakah jika ia diberi harta sedikit apakah akan bersabar ataukah tidak.
Syukur atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan terima kasih itu tidak semata-mata diucapkan dengan lisan. Akan tetapi harus disertai keyakinan dan perbuatan nyata. Orang yang mengaku bersyukur namun tidak bisa menggunakan nikmat di jalan Allah berarti dia belum bersungguh-sungguh dalam syukur nikmatnya namun hanya pemanis kata belaka.
Allah menjamin bagi orang yang mensyukuri nikmat Allah akan diberikan tambahan nikmat. Dan orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah, maka ia akan mendapatkan azab yang pedih sebagaimana firman Allah:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku). Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7).
Ayat di atas menjadi jaminan bahwa orang yang mensyukuri nikmat Allah akan mendapatkan tambahan nikmat tersebut. Tambahan itu bisa berupa nikmat materi ataupun nikmat non materi. Nikmat materi bisa dengan hartanya semakin bertambah, proyeknya lancar, dan sebagainya. Sedangkan tambahan yang bersifat non-materi misalnya hartanya bertambah berkah, hatinya tentram walaupun sedikit hartanya, urusannya dimudahkan oleh Allah, dan sebagainya.
4. Sebab Memperoleh Cinta Allah Dan Cinta Sesama Manusia
Orang dermawan dicintai dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga, dan jauh dari neraka. Orang yang pelit jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat kepada neraka.
Perintah Allah kepada kita untuk bersedekah sudah sangat jelas, baik yang disebutkan dalam Al-Quran maupun hadist qudsi. Pada hakikatnya orang yang bersedekah menjadi wakil Allah dalam mengasihi hamba-hamba-Nya. Keutamaan-keutamaan dan pahala-pahala sedekah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadist. Karena itu, salah satu langkah jitu untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah adalah dengan cara mengasih sesama manusia. Dan salah satu cara mengasihi sesama manusia adalah dengan bersedekah kepada mereka.
Dikisahkan ada seorang sufi yang bermimpi melihat catatan orang-orang yang mencintai Allah. Namun, sayang ternyata ia tidak mendapatkan namanya tercantum di sana. Kenyataan pahit itu tidak membuatnya putus asa. Ia berkata, “Mungkin untuk disebut sebagai orang yang mencintai Allah aku belum pantas. Karena itu, lebih baik aku mencintai sesama manusia saja.” Pada malam yang lain ia kembali bermimpi bisa melihat catatan orang-orang yang mencintai sesama manusia saja.” Pada malam yang lain ia kembali bermimpi bisa melihat catatan orang-orang yang mencintai Allah. Anehnya, ternyata namanya ada barisan paling atas. Ternyata perbuatan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia bisa menjadikan sebab seseorang dicintai oleh Allah. Pantaslah jika rasulullah bersabda, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami dan tidak menyayangi orang yang lebih muda daripada kami.” Dalam hadits lain disebutkan, “Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.” Dalam hadits lain disebutkan, “Kasihilah yang ada di atas bumi niscaya yang ada di atas langit akan mengasihimu.”
Selain kecintaan Allah, orang yang suka bersedekah akan mendapatkan kecintaan dari sesama manusia. Sudah menjadi tabiat manusia untuk ingin diperhatikan, dimengerti, dan dibantu. Sedekah adalah salah satu bentuk empati sosial. Orang yang memiliki memberi apa yang dimilikinya kepada orang yang memerlukan. Tidak disangsikan lagi, bahwa setiap orang yang diberi suatu kenikmatan pasti ia akan merasa senang dengan pemberinya. Dengan kita rajin melakukan sedekah, Insya Allah akan menjaga lahir batin kita.
5. Mensucikan Jiwa
Cinta dunia adalah kotoran yang menempel dalam jiwa manusia. Salah satu bentuk cinta dunia adalah mencintai harta yang berlebihan. Dalam surat Al Fajr ayat 20 Allah sudah menyindir kita dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. (QS Al Humazah: 1-2). Allah juga berfirman, Bermegah-megahan melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke liang kubur. (QS At Takasur: 1:2).
Sifat bakhil adalah kotoran yang menodai jiwa. Dan kotoran itu harus disucikan. Cara mensucikannya adalah menanam sifat pemurah dengan cara senang bersedekah. Insya Allah dengan rajin sedekah kotoran yang berupa sifat kikir tersebut akan hilang. Dan jika hati dan jiwa sudah bersih, maka kita akan merasa mendapat kelapangan dan kemudahan untuk beribadah kepada Allah.
6. Membawa Berkah dan Menyuburkan Harta
Sedekah bisa membawa berkah bagi harta orang yang melakukannya. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud berkah itu dan apa gunanya? Kata berkah memang sulit dicari padanannya di dalam bahasa Indonesia. Kata yang maknanya dekat dengan berkah adalah manfaat. Orang yang rajin bersedekah hartanya akan penuh berkah, artinya harta itu memberi manfaat bagi kehidupan duni dan akhiratnya.

Harta yang memberikan berkah akan membawa ketenangan dan ketentraman dalam hati pemiliknya. Harta yang membawa berkah akan membuat pemiliknya rajin untuk beribadah. Sebaliknya, harta yang kosong dari berkah akan menganggu ketentraman pemiliknya dan membuat pemiliknya enggan beribadah.
Sebagai perumpamaan, sebuah sepeda motor yang berkah membawa keselamatan bagi pengemudinya dan motor itu akan selalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan membuat Allah ridha. Sebaliknya, harta yang tidak berkah tidak akan membawa manfaat bagi pemiliknya atau justru mengantarkan pemiliknya atau justru mengantarkan pemiliknya pada kebinasaan. Harta yang tidak berkah juga cenderung untuk digunakan untuk bermaksiat, bukan untuk beribadah.
Selain membawa berkah, sedekah bisa menyuburkan harta seseorang. Ini sesuai dengan janji Allah dalam Al-Qur’an,
Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS Al-Baqarah: 276).
Dalam ayat lain Allah berfirman,
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261).
Ada banyak orang yang sudah mengalami kejadian luar biasa karena sedekahnya. Insya Allah akan dikemukakan pada pembahasan yang lain.
7. Menutup Aib
Setiap orang memiliki peluang untuk berbuat salah. Hanya Nabi dan Rasul saja yang memiliki sifat ma’shum (dijaga dari segala dosa). Dan sedekah bisa menutup aib orang yang melakukannya. Dalam sebuah syairnya Imam Syafii berkata,
Jika engkau memiliki aib di antara manusia
Dan kau ingin aib itu tertutupi
Maka tutuplah aib itu dengan sedekah
Sebab tidak ada orang yang bersedekah dicela
Imam Syafii bukan hanya seorang penyair yang bisa melantunkan bait-bait syair yang indah namun beliau juga pelaku dari apa yang dilakukannya. Ketika beliau diberi uang seribu dirham oleh Khalifah Harun Ar Rasyid, beliau membagi-baginya kepada fakir miskin tanpa sisa. Dan beliau tidak pernah diminta oleh seseorang melainkan beliau berikan apa yang diminta orang tersebut.
Sedekah bukan hanya menutup aib di dunia namun juga bisa menutup aib manusia di akhirat. Betapa banyak orang yang diselamatkan dari api neraka karena sedekah yang dilakukannya. Bahkan seandainya besok terjadi kiamat, dan kita memiliki sebutir kurma untuk disedekahkan, maka kita harus menyedekahkan kurma tersebut.
8. Mendatangkan Pertolongan Allah
Nasib manusia bisa berubah sewaktu-waktu. Kadang kala sehat dan kadang kala sakit. Kadang bahagia dan kadang sengsara, kadang sakit dan kadang sehat. Bagitulah permainan hidup yang kita jalani sejak kita lahir hingga meninggal dunia.
Sedekah bisa menjadi sebab Allah mendatangkan pertolongan kepada kita. Ada orang miskin yang dalam kemiskinannya bersedekah dan sebab sedekahnya itu Allah mengaruniai harta yang melimpah. Ada seorang yang sakit parah hingga dokter menyerah namun karena si sakit rajin bersedekah maka penyakitnya menjadi sembuh. Ia kembali menjadi sehat walfiat.
9. Mendapatkan Naungan dari Allah
Saat hari kiamat datang manusia dalam keadaan bingung. Udara sangat panas seakan-akan matahari bisa digapai dengan tangan. Peristiwa seperti ini sudah digambarkan oleh Baginda Rasul lebih dari empat belas abad yang lalu. Dan pada zaman ini kita sudah bisa merasakan kebenarnya. Bumi yang semakin lama semakin panas, lapisan ozon semakin tipis dan bahkan sekarang kita terancam oleh global warming (pemanasan global). Semua itu mengindikasikan kebenaran sabda-sabda Rasulullah tentang zaman akhir.
Saat manusia dalam kekalutan yang luar biasa dan tidak ada naungan yang bisa diharapkan selain naungan Allah itulah orang yang rajin bersedekah bisa bergembira. Sebab Bagida Rasulullah sudah bersabda, Ada tujuh golongan yang kelak mendapatkan naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya adalah seorang pemuda yang bersedekah dengan tangannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan dengan tangan kanannya.
Jadi Allah menjamin orang yang mau bersedekah sirri (yaitu sedekah yang tidak diketahui oleh orang lain) untuk diberi naungan pada hari kiamat. Saat itu sudah tidak ada naungan selain naungan Allah.

qiyamul-lail-620x330

10 Manfaat dan Keutamaan Shalat Tahajud

MUSLIM mana yang tidak ingin mendapat predikat muslim sejati di mata Allah? Pastinya semua muslim ingin terlihat beramal salah dan bertakwa di hadapan pencipta-Nya kelak. Hal ini pula mungkin yang selalu dipikirkan oleh kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia. Sehingga tak jarang mereka selalu melakukan kewajiban serta sunnah secara sempurna. Begitu banyak sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad guna menuntun kehidupan kaum muslim di muka dunia.

Salah satunya adalah sholat tahajud yang banyak dilakukan oleh kaum muslim di seluruh dunia. Sholat tahajud sendiri adalah shalat sunnah yang dikerjakan di malam hari setelah seseorang bangun dari tidur. Ibadah ini termasuk sunnah mu’akad, yaitu sunnah yang dikuatkan dengan syara’. Tak jarang banyak orang yang mengerjakannya di kala terbangun di tengah malam. Anda pun bisa mengerjakannya paling sedikit 2 rakaat dan sebanyak-banyaknya, tak ada batasan.

Waktu paling mustajab untuk melaukan shalat tahajud sendiri adalah 1/3 malam. Dimana para malaikat turun ke bumi dan Allah mengabulkan setiap doa hamba-Nya. Anda tak hanya mendapat imbalan pahala dari Allah, namun juga serentetan manfaat bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Banyak orang mengatakan bahwa sholat tahajud diyakini memberi ketenangan dan kedamaian jiwa. Seseorang yang terbiasa bangun untuk sholat di tengah malam pastinya mampu mengontrol emosi.

Manfaat Sholat Tahajud

Setidaknya, ada beberapa manfaat sholat tahajud yang disampaikan dalam penelitian, yaitu.

1. Penghapus dosa dan mencegah berbuat dosa

Seperti yang disampaikan di atas, sholat tahajud adalah ibadah yang selalu dilakukan oleh orang-orang shaleh. Ibadah ini mendekatkan diri seorang manusia kepada pencipta-Nya, Allah SWT. Bisa dibilang sholat tahajud mampu menjadi media penghapus dosa seseorang. Mereka pun pastinya memperkuat iman dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa besar maupun kecil. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sholat malam adalah ibadah yang sering dilakukan oleh orang-orang shaleh. Ibadah ini dapat mendekatkan seseorang kepada Sang Pencipta, jalan menghapuskan dosa serta mencegah muslimin untuk berbuat dosa.

2. Tanda takwanya terlihat di muka

Orang yang selalu melaksanakan sholat tahajud akan terlihat bersinar wajahnya. Inilah yang menjadi tanda bahwa seseorang tersebut bertakwa kepada Allah SWT. Tanda-tanda ketakwaan tersebut selalu terlihat oleh orang-orang di sekitar mereka. Hal tersebut bisa jadi pelecut semangat bagi kaum muslimin yang lain untuk selalu melaksanakan shalat tahajud. Shalat tahajud tetap menjaga keimanan seseorang teguh kepada sang Maha Penyayang.

3. Melancarkan aliran darah di tubuh

Sholat tahajud biasanya dilakukan pada pukul 03.00 pagi. Setiap muslim umumnya terbangun pada jam tersebut untuk mengerjakan sholat tahajud dan beribadah pada Allah. Ibadah ini nyatanya tak hanya sekedar berbagi keluh kesah, namun memberikan udara segara bagi seluruh organ tubuh. Ketika itu, udara di atmosfer masih sangat segar dan dihirup oleh paru-paru. Tubuh kita pun menggerak-gerakkan seluruh otot yang membuat badan segar seketika dan seluruh aliran darah terasa lancar. Oksigen segar akan menghilang ketika matahari terbit dan kembali pada pagi berikutnya. Hanya orang-orang yang terbangun untuk melaksanakan sholat tahajudlah yang bisa merasakannya.

4. Membesarkan rongga paru-paru

Manfaat gerakan shalat nyatanya memberikan efek positif bagi kesehatan manusia. Gerakan takbiratul ihram yang diikuti dengan bersedekap sebenarnya membuka rongga paru-paru lebih lebar. Hal tersebut diketahui mampu memperlancar aliran udara menuju paru-paru. Kerap kali kita merasakan paru-paru jauh lebih lapang daripada sebelumnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri sebagai salah satu olah napas yang sangat baik selain berolahraga

5. Jaminan masuk surga

Rasulullah pernah mengatakan bahwa siapapun yang melaksanakan shalat tahajud, maka jaminan surga baginya. Hal ini sempat pula diriwayatkan dalam salah satu hadits, sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, beri makanlah, sambung tali kasih, salat malamlah saat orang pada terlelap, maka masuklah surga dengan selamat, “ (HR. Al-Hakim, Ibnu Majah, At-Tirmizy).

6. Pikiran jauh lebih segar

Bangun tidur pastinya Anda memiliki pemikiran yang jauh lebih jernih. Bayangkan saja, dalam 1 hari jantung manusia bekerja 100.000 kali dan bernapas sebanyak 20.000 kali. Setiap organ tersebut memerlukan waktu istirahat yang cukup. Nyatanya tidur adalah istirahat yang sangat baik bagi tubuh. Dengan begini, seluruh organ tubuh akan beristirahat dari setiap tugas beratnya. Tidur membantu tubuh memulihkan sel yang sempat terganggu, menambah kekuatan dan otak pun kembali bekerja dengan baik. Alasan tersebutlah yang menjadikan shalat tahajud dilaksanakan setelah bangun dari tidur. Pikiran yang jauh lebih fresh dan segar membuat gerakan shalat kita juga khusyu’ memaknai ayat-ayat Al-Qur’an.

7. Mendapat keringanan ketika dinasab di akhirat

Keutamaan lainnya dari shalat tahajud adalah keringanan di hari akhir nanti. Setiap orang pastinya mempunyai catatan dosa dan pahala yang akan diterima di akhirat. Apabila catatan amalnya lebih banyak, niscaya surga tempatnya. Namun bila sebaliknya, sudah barang tentu neraka adalah tempat yang tepat. Bagi kaum muslim yang taat, shalat tahajud bisa menjadi media untuk mendapatkan keringanan ketika dinasab di akhirat. Allah akan memberikan keutamaan ini kepada mereka yang memohon ampun dan berdoa di sepertiga malam.

8. Memperoleh cinta Allah
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa orang yang selalu melaksanakan shalat tahajud akan memperoleh cinta dari Allah SWT. Sebagaimana Beliau bersabda pada Abu Darda’ r.a. tentang keutamaan shalat tahajud ini. Mereka yang memilih bangun di tengah malam dan meninggalkan kenyamanan tidur, niscaya akan mendapat cinta dari Allah SWT. Kaum mukmin tersebut memutuskan meninggalkan syahwat mereka dan bersujud di hadapan sajadah. Segala pengampunan doa diberikan Allah kepada orang-orang tersebut. Tentu saja cinta Allah kepada orang-orang shaleh tak berputus hingga hari akhir dan perhitungan nanti.

9. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Secara bio-teknologi, penemuan baru menyebutkan bahwa shalat tahajud mampu meningkatkan daya tahan tubuh seseorang. Di samping itu, bagi para penderita kanker akan merasakan manfaat lainnya, yaitu menghilangkan rasa nyeri yang kerap melanda. Pada bidang ini pula dikatakan bahwa shalat tahajud meningkatkan respon positif yang sangat efektif dalam anastesi pra bedah. Alasan inilah yang menjadikan mengapa shalat tahajud sangat baik dilaksanakan oleh penderita penyakit berat sekalipun. Anda akan merasakan begitu banyak manfaat dalam gerakan shalat malam tersebut.

10. Shalat yang paling afdhal setelah 5 waktu

Kewajiban setiap muslim dan muslimin di seluruh dunia adalah mengerjakan shalat 5 waktu. Allah SWT menyukai umat-Nya yang selalu mengingat-Nya baik dalam keadaan senang maupun sedih. Tak ada tempat berbagi ataupun mengadu yang lebih baik selain kepada Allah SWT. Shalat tahajud menjadi salah satu ibadah yang paling afdol setelah shalat 5 waktu. Shalat tengah malam memberi kesempatan kepada Anda untuk beribadah lebih khusyu’. Waktu tersebut juga sangat tepat untuk berkeluh kesah dan memohon ampunan dari Sang Pencipta.